Desember ini, rumah keluarga Ardi terasa berbeda. Bukan karena lampu hias yang baru dipasang di ruang tengah, bukan juga karena hadiah-hadiah kecil yang mulai ditumpuk diam-diam di bawah meja. Perbedaannya ada pada keheningan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada daftar panjang destinasi liburan, tidak ada pembahasan hotel atau tempat wisata. Yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana: bagaimana keluarga ini ingin menutup tahun yang penuh badai?
Setahun terakhir bukan tahun yang mudah. Kesibukan pekerjaan membuat Ardi jarang berada di rumah. Istrinya, Rani, berjuang mengurus anak sembari menahan rindu pada kehangatan keluarga yang dulu lebih sering hadir tanpa diminta. Anak-anak pun mulai terbiasa menjalani hari tanpa terlalu banyak percakapan. Di meja makan, mereka duduk bersama, tetapi jiwa dan pikiran masing-masing seperti pergi ke tempat yang berbeda.
Sampai akhirnya, suatu malam, Rani berkata pelan, “Kita sudah terlalu lama hidup satu rumah, tapi tidak benar-benar bersama.”
Kalimat itu seperti mengetuk kesadaran Ardi. Itu bukan kemarahan, bukan tuntutan, tetapi jeritan rindu untuk kembali menjadi keluarga.
Keluarga Ini Butuh Berhenti Sejenak
Beberapa hari berikutnya, mereka mulai mencari cara untuk memperbaiki keadaan. Rani mengusulkan liburan ke luar kota agar anak-anak bisa melepas penat. Anak-anak mengusulkan bermain di theme park seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, entah mengapa semua itu terasa hanya seperti pelarian, bukan solusi.
Sampai suatu sore, putra bungsu mereka, Fadil, bertanya polos, “Ayah, kenapa akhir tahun kita selalu sibuk senang-senang, tapi setelah liburan selesai kita kembali saling diam?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada apa pun. Pada akhirnya, semua orang menginginkan kebahagiaan, tetapi tidak semua kebahagiaan datang dalam bentuk liburan mewah.
Ardi memandang keluarganya satu per satu. Ada letih, ada rindu, ada harapan yang tidak pernah terucap. Saat itulah terlintas ide berbeda: bagaimana jika akhir tahun ini digunakan bukan untuk berlari dari kehidupan, melainkan untuk memulihkan hati?
Keputusan yang Mengubah Segalanya
Rani awalnya terdiam ketika mendengar ide Ardi untuk menghabiskan akhir tahun dengan perjalanan ibadah keluarga. Bukan rencana yang reaktif, bukan pelarian dari masalah, melainkan kesempatan untuk memulai tahun baru dengan jiwa yang lebih tenang.
Mereka mulai mencari referensi, berdiskusi, menimbang jadwal anak-anak dan kesiapan finansial. Setelah cukup yakin, mereka memutuskan berangkat melalui program umroh desember bersama keluarga. Mereka tidak membayangkan kemewahan perjalanan. Yang mereka inginkan hanyalah perjalanan hati.
Perjalanan itu ternyata lebih menyentuh daripada apa pun yang pernah mereka rencanakan.
Anak-anak tiba-tiba menjadi lebih dekat satu sama lain, saling membantu dalam ibadah tanpa diminta. Ardi melihat istrinya tersenyum lepas, bukan karena hotel mewah atau wahana permainan, tetapi karena ketenangan bathin yang mungkin sudah lama hilang. Dan ketika seluruh keluarga berdiri bersama menghadap Ka’bah, Ardi merasa seperti menemukan kembali kompas hidupnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tidak hanya menjadi keluarga di atas kertas, tetapi keluarga dalam hati.
Tahun Berganti, Hidup Berubah
Ketika mereka pulang, tidak ada yang sama. Suasana rumah tidak lagi penuh keheningan. Sarapan kini disertai obrolan tentang mimpi dan cita-cita. Anak-anak saling membantu sebelum diminta. Pertengkaran kecil tetap ada, tetapi cinta terdengar lebih lantang daripada sebelumnya.
Perjalanan itu bukan jalan keluar dari masalah, melainkan perjalanan pulang ke hati masing-masing.
Dan bagi keluarga lain yang masih merencanakan perjalanan — tidak harus tahun ini. Banyak perjalanan ibadah keluarga sudah dibuka untuk umroh desember 2026, memberi ruang untuk menabung, mempersiapkan, dan merencanakan tanpa terburu-buru.
Karena perjalanan terbaik bukan tentang seberapa jauh kaki berjalan,
tetapi seberapa dekat hati kembali bersatu.
Akhir tahun akan datang setiap tahun. Anak-anak akan tumbuh tanpa menunggu. Keluarga adalah rumah yang selalu ingin kita lindungi. Dan kadang, yang paling kita butuhkan bukan hiburan… tetapi kesempatan untuk kembali merasakan satu sama lain.




