Pagi itu, Dimas dan istrinya, Rara, sibuk melipat pakaian di kamar sempit mereka di Bekasi. Di sudut ruangan, anak mereka yang baru berusia tiga tahun, Hana, tertawa kecil sambil bermain koper. Tak ada yang menyangka, tiga koper sederhana itu akan menjadi saksi perjalanan spiritual keluarga muda ini menuju Tanah Suci lewat jalur umroh mandiri.
“Awalnya kami pikir mustahil berangkat dengan kondisi keuangan seperti ini,” kata Rara. “Tapi setiap kali lihat Hana tidur, kami selalu bilang: semoga dia jadi anak yang kenal Baitullah sejak kecil.”
Dimas hanyalah pegawai swasta, sementara Rara bekerja dari rumah sebagai desainer. Mereka mulai menabung sejak dua tahun lalu. Tak mewah, tapi konsisten. Setiap kali dapat bonus, mereka simpan. Setiap kali ada order besar, Rara menyisihkan 10% untuk tabungan umroh.
“Bukan karena kami berlebih, tapi karena kami pengin Allah سبحانه وتعالى melihat niat kami,” ucap Dimas dengan mata berkaca-kaca.
Saat uang terkumpul, muncul dilema lain: apakah mungkin membawa anak kecil dalam perjalanan jauh seperti umroh? Apalagi mereka tidak ingin bergabung dalam rombongan travel. Mereka ingin melakukannya sendiri — mencari tiket, memilih hotel, dan mengatur jadwal sesuai ritme keluarga muda yang masih punya balita.
“Banyak yang bilang kami gila,” kenang Rara sambil tersenyum. “Tapi justru karena kami pengin lebih fleksibel dan fokus ke ibadah, kami memilih umroh mandiri.”
Melalui pencarian daring, mereka menemukan beberapa penyedia jual visa umroh mandiri. Namun Dimas tahu, banyak juga yang tidak resmi. Maka ia memutuskan untuk mempelajari dasar hukumnya. Dari situs resmi Kementerian Agama, ia membaca bahwa kini sudah ada UU Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Haji dan Umroh, yang secara jelas memberi ruang bagi jamaah untuk berangkat secara mandiri, selama mengikuti prosedur resmi dan menggunakan visa yang sah.
“Kami akhirnya mengajukan visa umroh mandiri lewat penyedia yang terdaftar resmi. Semua dokumen kami unggah sendiri, dan prosesnya surprisingly cepat—hanya lima hari,” kata Rara.
Tiket pesawat mereka pesan sendiri secara daring, menyesuaikan jadwal cuti kerja dan waktu tidur anak. Hotel dipilih yang punya dapur kecil agar bisa menyiapkan makanan untuk Hana. “Kami ingin perjalanan ini terasa nyaman, bukan menegangkan,” ujarnya.
Saat pesawat mendarat di Jeddah, Hana menatap jendela dan berkata polos, “Ayah, itu Makkah?” Dimas langsung menitikkan air mata. “Belum, Nak. Tapi kita sedang menuju rumah Allah سبحانه وتعالى.”
Di Makkah, perjuangan mereka dimulai. Membawa stroller di tengah lautan jamaah bukan hal mudah. Kadang mereka harus menunggu waktu sepi untuk thawaf, kadang harus bergantian agar Hana bisa beristirahat. Namun justru di situ, mereka menemukan makna sejati dari kesabaran.
“Di putaran ketiga thawaf, Hana tertidur di pangkuanku,” kenang Rara. “Saya menatap Ka’bah sambil berbisik, Ya Allah, terima ibadah kami, meski dalam bentuk paling sederhana.”
Bagi Dimas, momen paling menyentuh adalah ketika ia menggendong Hana saat Sa’i. “Saya sadar, mungkin inilah makna sebenarnya dari menjadi orang tua—menuntun anak menapaki perjalanan menuju rahmat-Mu,” ucapnya lirih.
Selama di Madinah, mereka merasa sangat terbantu oleh fasilitas ramah keluarga. Petugas masjid membantu menyediakan ruang khusus untuk ibu dan anak, bahkan beberapa jamaah dari negara lain membantu mereka mendorong stroller tanpa diminta. “Rasanya seperti berada di tengah keluarga besar umat Islam,” kata Rara.
Mereka juga sempat berbincang dengan jamaah asal Indonesia lain yang kaget mendengar bahwa mereka berangkat mandiri. “Kok berani banget bawa anak kecil tanpa travel?” tanya salah satu ibu jamaah. Rara hanya tersenyum, “Kami cuma percaya, kalau niatnya baik, Allah سبحانه وتعالى pasti bantu.”
Dan benar saja. Selama perjalanan, tak ada kendala berarti. Semua berjalan lancar seakan diberi jalan lapang. Bahkan Hana tidak pernah rewel saat di masjid. “Mungkin karena dia pun merasakan ketenangan di tempat suci ini,” ucap Rara pelan.
Sepulang ke tanah air, pengalaman mereka viral di media sosial. Banyak keluarga muda yang terinspirasi, bahkan meminta panduan bagaimana mengurus umroh mandiri dengan anak kecil. Dimas pun mulai menulis blog sederhana berisi panduan dan tips: mulai dari mengurus visa umroh mandiri, memilih maskapai ramah keluarga, hingga checklist perlengkapan balita.
“Bukan untuk pamer,” kata Dimas. “Kami cuma ingin menunjukkan bahwa umroh itu bukan hanya untuk yang sudah mapan atau pensiunan. Keluarga muda pun bisa, asal niat dan patuh aturan.”
Kini, di ruang tamu kecil mereka, ada foto keluarga di depan Ka’bah yang selalu jadi pengingat. Setiap kali Hana melihat foto itu, ia berkata, “Ayah, aku mau ke Makkah lagi.”
Dan Dimas pun tersenyum, menatap istrinya, lalu berbisik pelan, “Insya Allah, Nak. Kalau Allah سبحانه وتعالى mengizinkan, kita akan kembali lagi.”
Kisah mereka menjadi bukti bahwa umroh mandiri bukan tentang memberontak dari sistem, tapi tentang menjalani ibadah dengan kesadaran, perencanaan, dan ketulusan hati. Karena ketika niat tulus sudah ditanamkan, Allah سبحانه وتعالى akan memudahkan segala jalannya—bahkan untuk keluarga kecil dengan balita yang baru belajar melangkah.




